The Fault in Our Stars, karena bukanlah bintang-bintang yang harus disalahkan

Even I climbed that hill, I won’t be able to found the sunflower which you want :p

-postingan ini tidak pantas disebut review yang baik ataupun curhatan yang baik-

dari tangan ini....

dari tangan ini….

berpindah ke tangan ini... :p

berpindah ke tangan ini… :p

Aku habis baca TFiOS. Ceritanya bertema kanker, dan aku banyak belajar dari buku itu. Meskipun resiko novel terjemahan adalah bahasanya yang terkadang terkesan ganjil ketika dibaca, tapi aku menikmatinya 😀

Waktu aku browsing di internet, membaca review-review netter tentang TFiOS, banyak kata-kata sanjungan, pujian, dan banjiran air mata disana :p hahaha. Namun kok aku jadi bingung, kenapa aku gak nangis sendiri ya? Mungkin aku emang lagi gak mood nangis :p hahaha. Tapi bagus kok ceritanya, aku baru tahu kalau penulisnya sendiri dulunya ternyata pernah jadi pendeta di semacam yayasan rumah sakit anak-anak. Jadi ya jadi gak heran kenapa pembukaannya kok gitu… :p (spoiler bagi yang belum baca). Yah karena terlanjur overrated duluan (kena spoiler lumayan banyak juga di goodreads TT.TT) jadi gak bias menghayati to the max deh heuheuheuheu. Dan yah…. Dunia kanker memang terlihat menakutkan (emang menakutkan). Aku jadi merasa berdosa, waktu smp dulu menginginkan bagaimana kalau aku sakit kanker… pasti enak. Dan sudah pasti kanker itu enggak enak. Aku juga jadi keinget waktu SD kelas 3 dulu pindah sekolah, aku diceritain sama teman sebangkuku kalau pas aku masuk, ada satu anak dari kelas tersebut yang keluar (enggak sekolah lagi disitu). jadi bisa dibilang aku substitute-nya gitu. Huwaaaa, dan aku dikasih tau pula kalau anak yang aku gantiin tadi keluar dari sekolah gara-gara leukemia. Aku juga gak tau gimana kabar anaknya sekarang, karena kami juga gak pernah ketemu :”) kalau gak salah waktu itu dia nomor absen 20 kalo enggak 21, dan dua nomor itu pernah jadi nomor absenku selama sekolah TT.TT # jadipanaroidsendiri. Apalagi pas pertama-pertama kali masuk, ada anak di kelas ngomong “Mirip enggak sih dia sama si A?” si dia maksudnya gw, si A maksudnya anak yang tadi aku ceritain kena leukemia, trus dibales sama temennya “Hmm gimana ya… kayaknya enggak kok.” Huft syukurlah.

Dari beberapa buku yang pernah gw baca, masih bisa dihitung pake jari yang ada unsur-unsur kankernya. Kebanyakan pasti akhirnya mati, tapi TFiOS ini bagusnya diendingin pakai surat gitu (dan sampe sekarang gw masih belum 100% nangkep maksud isi suratnya. Horeeee!)

Aku suka semua tokoh-tokohnya, tapi gw paling suka si Mom (mamanya Hazel). Ada tokoh yang bikin mengganjal di hatiku, yaitu penulis novel Kemalangan Luar Biasa, Van Houten. Dan aku seperti loading sejenak…. Tet! Tet! Bukannya ini merek cokelat yaaaa -_- dan ternyata di pertengahan cerita diceritain kalo dia kaya gara-gara kakeknya dulu menemukan cara mencampur kakao dengan air (hmm berhubungan dengan coklat kan *_*). Di buku ini kalian akan bertemu singkatan-singkatan macam ANTM, yang ternyata America’s Next Top Model. Kalian juga akan disuguhkan Heroine dan MCnya nonton V for Vendetta (yang cepat cepat aku asumsikan heroinenya gundul kaya Natalie Portman) tapi sampe akhir aku belum bisa membayangkan seberapa panjang rambut Heroinnya, karena sepanjang bukunya minim deskripsi (atau aku aja yang enggak jeli) hahaha jadi aku membayangkan rambutnya 5cm di bawah pundak dan berwarna hazel. Aku juga tertarik dengan ide ulang tahun setengah tahunan-nya :p aku baru menyadari dalemnya maksud yang mau disampein begitu selese bacanya TT.TT

Gara gara baca TFiOS aku jadi pengen ke Amsterdam (S2 disana kayanya mantep hahaha)

Gara gara baca TFiOS aku jadi pengen ke Alfamart beli coklat Van Houten

Gara gara baca TFiOS aku jadi searching gambar Indianapolis

Gara gara baca TFiOS aku jadi browsing apakah ada perkumpulan untuk penderita kanker di Indonesia

Gara gara baca TFiOS aku jadi pengen download game untuk PSP ku di rumah

Gara gara baca TFiOS aku jadi tahu istilah ‘menyala seperti pohon natal’  itu nyesek banget

Gara gara baca TFiOS aku jadi tahu kalau diriku mungkin juga sedang mengalami Hamartia

Gara gara baca TFiOS mengingatkanku pada quote Pak Anang tersayang yang kurang lebih “Tidak banyak orang yang cukup beruntung bisa menjadi ahli dalam sesuatu. Makanya ketika kamu mendalami satu saja sesuatu namun kamu professional di dalamnya, niscaya kamu akan survive.

Gara gara baca TFiOS aku jadi sempet galau

Dan semenjak baca TFiOS, aku semakin meneguhkan diri sebagai #AntiHangoverEndingGarisKeras, karena sebaiknya sebuah cerita itu diakhiri. Jika tidak bisa diakhiri, cerita itu sebaiknya berlanjut untuk selamanya….!

—–

“Augustus, mungkin kau ingin berbagi ketakutan?”

“Ketakutanku?”

“Ya.”

“Aku takut dilupakan untuk selamanya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s